Advertising, Dedikasi, Overwork

Semenjak pagi tadi, gue buka akun2 socmed gue, banyak tweet / post tentang the passed young-talented copywriter Mita Diran; yang pertama gue baca itu, sekitar jam 8 pagi, dari akunnya @ahensiexahensi. Selang beberapa jam kemudian, twitter heboh soal ini, disusul kemudian sama portal2 online.

Gue jadi inget.. soalnya, baru kemaren gw ngepost doa gue di path, tentang keinginan gue yang belom kesampean, buat kerja di advertising. #DoaKokDiPosting #DipanjatkanMaksudnya

20131216-200213.jpg

FYI: gue emang udah sejak lama terobsesi kerja di Lowe. Bukan soal gaya hidup karyawannya yang konon gila2an.. Tapi lebih karena emang sejak sekitar tahun 2009, gue memimpikan banget kerja di sana.
Ngga mutlak harus Lowe sih.. ad agency lain macam Iris, JWT, McCann, Leo Burnett, Matari, dsb. juga masuk dalam bidikan teleskop karir gue.

Kalo boleh jujur sih gue ga sial2 amat.. Soalnya biarpun belom ngerasain kerja di pabrik iklan, seenggaknya gue pernah ngerasain kerja di tempat yang sedikit bersinggungan dengan itu, yakni di production house (PH) dan TV station; jabatannya pun ngga nista2 amat; dimana di PH gue jadi in-house scriptwriter, sementara di TV gue jadi asisten produser (menurut orang mungkin itu keren, tapi kalo menurut gue, itu… hahaha). Whatever! Hasrat terbesar gue tetep belom kesampean: Advertising, breee!!

Well, beginilah kalo seorang sarjana keguruan, punya mimpi untuk menginvasi urusan para sarjana komunikasi. Seperti David yang pengen menjatuhkan Goliath, dengan kekuatan satu tangannya.

Balik soal berpulangnya Mita Diran, however it takes, memang seperti itulah konsekuensi sebuah dedikasi. Kerja kreatif, jelas beda dengan melacurkan diri pada pekerjaan yg ngga kita cintai. Ngga ada keinginan untuk resign setiap saat; yang ada, cuma hasrat untuk selalu berkreasi selama udara masih bisa dihirup.
Ide memang bukan dari fisik; ide itu dari pikiran. But there’s a bold relationship between them both. So, we’ve got to know our limit, without bounding our passion.

Advertisements

14 thoughts on “Advertising, Dedikasi, Overwork

  1. Saya dulu sering berdoa di status hehe. Alhamdulilah sekarang sudah di “jalan” yang bener ,berdoa secara khusuk namun tidak melalui status lagi.

    Oh iya, mengenai pekerjaan yang “overdosis” sangat miris ya, 30 jam. Turut berduka cita, semoga tenang di sisiNYA πŸ™‚

    1. Iya mbak.. Tapi itulah dedikasi. Kenapa aku pengen bgt kerja di iklan, krn kebanyakan org iklan itu sangat mencintai pekerjaannya. Cuma yaa tentunya harus tau batasan fisik juga sih.. πŸ™‚

  2. AAaaaah…. Itu impian gue banget, Om…. Pengen banget jadi script-writer…. Tapi masih belum nemu jalan ke sana. -_-

    Soal si copywriter itu, gue turut berduka. Sudah sepatutnya kita belajar untuk nggak memforsir diri kelewat batas.

  3. Beh pas baca paragraf terakhirnya gw langsung punya motivasi bleh. Emang kalo usah suka sama sebuah bidang tertentu, mau lembur pun gak masalah. Cuman masalahnya bleh, dada gw kok gak bidang-bidang ya??

Ngomen Yang Bener!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s