Dari Keren Jadi Keren

Postingan kali ini agak beda. Kali ini, gue ngga akan bahas pengalaman2 gue, temen2 gue.. ataupun tentang kompetisi sepakbola yang tengah bergulir di kampung gue.
Kenapa?
Karena postingan kali ini, gue akan bahas tentang sebuah toko online ternama bernama Zalora.
Weeiitsss.. udah pada kenal donk ya pastinya?!
Ya, beberapa waktu lalu, gue emang dapet email berisi undangan kerjasama sama Zalora. Beberapa dari kalian juga mungkin ada yang dapet undangan tsb ya..?!

Oke, ceritanya gini..
Jauh sebelum dapet email, gue emang udah kenal sama toko online yang satu ini. Produk2 yang dijualnya pun gue tau sedikit. Cuman, ada satu yang gue dapet, setelah gue diajak kerjasama dalam satu postingan sama doi. Apa?
Yaitu fakta, bahwa gue jadi pengen pake kemeja!
Ya..!! Selama ini, selama gue kerja di media, gue emang jarang banget pake kemeja. Malah bisa dibilang nyaris belom pernah. Bukan apa2.. masalahnya, gue emang lebih merasa sangat tampan kalo dandan pake kaos dropdead + skinny jeans ala anak2 ABG yang baru lepas nete gitu. Lebih nyaman katanya. Standar orang media ya mungkin emang kayak gitu lah yaa..?! -pakean semaunya, beda dari pegawai kantoran bener.
Cuman, nggak tau kenapa.. mungkin karena sekeliling gue banyak orang bener, yang diwajibkan untuk berpakaian formal selama bekerja, gue juga jadi pengen. Gue pengen sekali2 gue ngantor rapi. Nggak usah pake jas atau dasi lah yaa.. nanti malah dikira mayat orang Inggris..!? Cukup pake kemeja aja.

Nah, pas gue dapet email dari Zalora itu, otomatis gue liat2 konten web’nya doonnkk..!? Survey kecil2an lah istilahnya. Ternyata, produk kemejanya emang keren2. Seriuss!! Ini bukan iklan, bukan built in segmen kayak yang ada di infotainment2 di TV, bukan infomercial atau apapun! Gue emang bener2 tertarik sama produk kemeja yang didisplay di halaman webnya. In other words, gue kepengen banget beli kemeja di sini..!!
20140129-160724.jpg
Seandainya mungkin kapan2 gue ngantor pake kemeja, rasanya para staff marketing yang ada di kantor gue -bahkan kemungkinan juga sekretaris direksi-, akan tergila-gila dan bahkan rela menyerahkan segalanya buat gue. Kenapa? Ya karena gue akan sangat terlihat elegan. Elegan.. ejaan Indonesia.. jangan ejaan Spanyol!! Kalo ejaan Spanyol, dibacanya “elehan”, yang dalam bahasa Cise’eng-nya means “kalah mulu”.
20140129-161056.jpg
Selain kemeja, celana2 jeans’nya pun keren2. Selama ini, gue begitu fanatik sama produk jeans’nya toko A Liong, yang ada di Depok. Tapi setelah liat2 Zalora, gue jadi dapet referensi, tentang produk yang bisa bikin gue bakal tambah keren.
20140129-155505.jpg
Tetep dengan casual, tapi lebih keren!
Emang sih.. orang yang divonis keren kayak gue, pake apapun bakal tetap keren. Permanen lah istilahnya ke-keren-an gue ini. Cuman kan alangkah lebih baik, kalo produk yang gue gunakan juga merupakan produk yang fashionable. Siapa tau kan, besok2, misalnya pas gue lagi kebetulan ada di TKP suatu kasus, terus ada tim dari tipiwan yang ngeliput, reporternya Chacha Anisa, bisa sekalian gue gebet. Gue yakin.. Chacha Anisa juga bakal ragu buat nolak gue kalo guenya keren.

Nah.. mungkin itulah salah satu hikmah dari tawaran kerjasama yang dikasih Zalora ke gue. Selain memperkaya referensi tentang produk fashion, nggak melulu soal toko A Liong, gue jadi punya recommended brand yang bisa gue pilih, kalo suatu saat nanti mau ngedate sama Chacha Anisa. Lho.. ini kenapa jadi ngomongin reporter TV sebelah yak..??!

Advertising, Dedikasi, Overwork

Semenjak pagi tadi, gue buka akun2 socmed gue, banyak tweet / post tentang the passed young-talented copywriter Mita Diran; yang pertama gue baca itu, sekitar jam 8 pagi, dari akunnya @ahensiexahensi. Selang beberapa jam kemudian, twitter heboh soal ini, disusul kemudian sama portal2 online.

Gue jadi inget.. soalnya, baru kemaren gw ngepost doa gue di path, tentang keinginan gue yang belom kesampean, buat kerja di advertising. #DoaKokDiPosting #DipanjatkanMaksudnya

20131216-200213.jpg

FYI: gue emang udah sejak lama terobsesi kerja di Lowe. Bukan soal gaya hidup karyawannya yang konon gila2an.. Tapi lebih karena emang sejak sekitar tahun 2009, gue memimpikan banget kerja di sana.
Ngga mutlak harus Lowe sih.. ad agency lain macam Iris, JWT, McCann, Leo Burnett, Matari, dsb. juga masuk dalam bidikan teleskop karir gue.

Kalo boleh jujur sih gue ga sial2 amat.. Soalnya biarpun belom ngerasain kerja di pabrik iklan, seenggaknya gue pernah ngerasain kerja di tempat yang sedikit bersinggungan dengan itu, yakni di production house (PH) dan TV station; jabatannya pun ngga nista2 amat; dimana di PH gue jadi in-house scriptwriter, sementara di TV gue jadi asisten produser (menurut orang mungkin itu keren, tapi kalo menurut gue, itu… hahaha). Whatever! Hasrat terbesar gue tetep belom kesampean: Advertising, breee!!

Well, beginilah kalo seorang sarjana keguruan, punya mimpi untuk menginvasi urusan para sarjana komunikasi. Seperti David yang pengen menjatuhkan Goliath, dengan kekuatan satu tangannya.

Balik soal berpulangnya Mita Diran, however it takes, memang seperti itulah konsekuensi sebuah dedikasi. Kerja kreatif, jelas beda dengan melacurkan diri pada pekerjaan yg ngga kita cintai. Ngga ada keinginan untuk resign setiap saat; yang ada, cuma hasrat untuk selalu berkreasi selama udara masih bisa dihirup.
Ide memang bukan dari fisik; ide itu dari pikiran. But there’s a bold relationship between them both. So, we’ve got to know our limit, without bounding our passion.

Satu Fase Bernama ‘Jatuh Cinta’

#RandomPost

20131022-234203.jpg

Konon, orang cenderung susah tidur saat sedang mengalami satu fase dalam hidup, yang namanya ‘jatuh cinta’; alasannya, tak lain karena ia merasa, bahwa kenyataan hidupnya jauh lebih indah dari mimpi dalam tidurnya. Tapi, tak sedikit pula orang yang lebih banyak merasa sepi dan gelisah saat sedang mengalami fase yang sama; itu tak lain, karena selama fase itu, orang sering menempatkan hatinya bersama dengan sosok yang dia cintai. Dan saat secara fisik hal itu tidak terjadi, maka di situlah kegelisahan muncul.
Banyak cerita memang soal fase yang dinamakan jatuh cinta ini. Menyenangkan, mengharukan, melelahkan, bahkan sampai menyedihkan.. Semua bagian dari proses cerita yang terangkai secara multiplot.
Salah satu proses dalam fase yang disebut ‘jatuh cinta’ yang berekspektasi negatif, adalah ketika kita mencintai orang yang salah. Ya, mencintai orang yang tidak seharusnya. Atau bisa saja ia masuk kategori “seharusnya”, tapi dengan disertai alasan lain. Ketidakpantasan lahiriyah -yang notabene adalah produk pikiran berwujud sugesti- kadang mampu menyusun sendiri ending dari fase yang seharusnya mengalir secara alami tersebut. Sialnya, ending itu justru kebanyakan terkesan mendahului apa yang seharusnya. Mengerti sendiri kan.. bahwa sesuatu yang mendahului apa yang seharusnya, kadang menjadi sebuah kesimpulan prematur. Keniscayaan yang kemudian diyakini tanpa alasan, karena hanya berawal dari opini.

Apapun, yang jelas, sebuah fase dalam hidup yang dinamakan ‘jatuh cinta’, tetap akan memberikan warna. Keceriaan yang nyaris serupa dengan apa yang pernah kita alami di masa kecil, terwujud atas hadirnya fase itu. Thanks God for giving us that moment. We’re never know how’s it goin’ to be, since all those hidden meanings are in You.

🙂