Jadi Penulis Keren

Kalo gue perhatiin secara seksama… camkan, seksama.. seksual! Kalo gue perhatiin secara seksama, di timeline twitter gue, akhir-akhir ini banyak banget dari pemirsa twitter – sahabat twitter – twitter holic – twitter klikers – atau apapun namanya, yang ngebet kepengen jadi penulis.

Heran gue..

Sementara orang mah pada ngebet pengen jadi presiden, menteri, gubernur, wampe walikota – malah sampe keliyengan nyari partai yang mau ngusung, ini cuma tergila-gila buat jadi penulis.

Entah ada kebanggaan apa di balik status penulis itu..?

Sementara, banyak juga dari mereka (pemirsa twitter lain) yang lagi sibuk promosiin buku barunya.
Mulai dari cerita berkelas -baik itu kelas berat, bulu, ataupun kelas melayang- dengan kualitas ramos pulen, sampe cerita abal-abal yang dikumpulin dari potongan tweet mereka di akun situs jejaring sosial bergambar burung itu. — buat gue pribadi, buku-buku yang ditulis berdasarkan isi dari kicauan mereka, itu bukan buku, melainkan bungkus combro.

Nah gue sendiri jadi bingung.. Satu sisi banyak yang mendadak jadi penulis, di sisi lain banyak yang belom kesampean jadi penulis.
Sesuatu yang bertolak belakang namun tak bertolak pinggang.

Terus apa hubungannya sama gue?
Terus gue harus coli sambil bilang wow gitu? — bilang wow-nya sih ga seberapa, coli-nya itu..!

Poin-nya, adalah keistimewaan seorang penulis!
Bagi sebagian orang, pekerjaan menulis adalah pekerjaan impian, yang mana kalo mereka bisa sampe punya buku, maka itu sama halnya dengan punya rumah elit. Punya buku, maka itu bisa bikin mereka kaya dan bisa beli mobil mewah berkapasitas 3 orang. Beli aja bajaj! Kapasitasnya cuma tiga orang itu!!
Nah, ya.. saat orang berlomba untuk mengeluarkan buku karena tergiur status sebagai penulis, sebagian lainnya justru berpikir bahwa: menulis itu adalah pekerjaan yang lebih didominasi oleh pengabdian ketimbang komersialitas.

Statement ini gue congkel dari para penulis yahud yang karyanya sering wara-wiri di toko buku; sudah jelas karya mereka bukan cabutan dari twit twit di twitter!

“Emang lo pernah ketemu penulis yahud?” – pasti lo mau ngomong gitu kan?

Gini.. jadi untuk saat ini, kebetulan status gue kan masih penulis in-house di salah satu rumah produksi yang kebetulan beda sama rumah bordir. Nah belakangan, gue sering nulis script buat beberapa acara TV, yang salah satunya mengupas tentang segala sesuatu yang berhubungan sama profesi, hobi dan lifestyle. Nama acaranya Referensi – tayang jumat jam 08.00 di Kompas TV.. Pada nonton yaa?! — ini agak promosi dikit.

Beberapa episode terakhir, untuk segmen profesi itu sering banget menghadirkan para penulis handal, mulai dari penulis buku, naskah film, koran, dsb.
Ternyata semua prinsip mereka sebagai penulis itu sama: “Riset sebelum nulis.”
Ini menyiratkan, bahwa setiap tulisan harus punya background warna yang jelas, yang dihubungkan oleh wawasan, logika berpikir dan juga kepiawaian berbahasa pada warna foreground yakni kata-kata yang muncul di tiap lembarnya.

Ketinggian ya bahasanya?

Maksudnya begini.. Kata-kata yang kita baca di tiap halaman buku mereka, itu mengarah kepada makna yang ada di dalamnya. Ketika proses pengarahan itu terjadi, wawasan dan kemampuan berbahasa mereka itulah yang membuat kita bisa menyelami makna sebenarnya dari apa yang mereka tulis.

Masih ketinggian ya?
Gue khawatir.. Takutnya lo pada ga ngerti, terus dipikirin, terus lo ntar pada meriang..!

Gini deh.. Ibaratnya Jakarta adalah kata-kata; Bogor adalah makna; sementara kalo dari Jakarta pengen ke Bogor, harus naek kereta. Jadi kalo kalian baru datang dari Birmingham misalnya, landing di Bandara Internasional Kampung Rambutan, itu yang pertama kalian lihat itu Jakarta (kata-kata). Kalian ga akan tau bagaimana makna yang ada di Bogor, kalo kalian ga naek kereta. Sementara, kereta ga akan jalan tanpa wawasan mereka, logika mereka, serta keterampilan berbahasa mereka.
Intinya: kemampuan penulislah yang membawa kalian (pembaca) mengerti makna yang mereka siratkan.

Itu artinya, penulis harus pinter!
Mau dia nulis buku horor, artikel politik, tulisan lucu-lucuan sekalipun, biarpun terkesan enteng dan ga seberapa, tapi apa yang dia paparkan itu penuh makna. Jadi untuk menjadi seorang penulis, itu ga segampang jadi kameramen acara sunatan.

Nah maksud gue, kalo emang kebetulan kalian pengen atau dalam kurung bercita-cita jadi penulis, pengen punya buku, dan lain sebagainya, jadilah penulis yang pinter. Toh itu juga bukan buat siapa-siapa, melainkan buat kalian juga. – udah kaya orang tua belom gaya ngomong gue??

Ngga perlu keluar masuk kantor penerbit kalo kalian bisa menginjeksikan kapabilitas kalian dalam tulisan.. Cukup dokem di rokum, publish di blog.. Para penerbit yang akan ngehubungin kalian.
Tapi selama pemikiran masih cetek, ya maap-maap.. Paling cuma ngandelin keberuntungan.

Gue sendiri?
Ngga lah..! Gue sendiri juga cetek – malah cetek banget, jadi gue ngerasa ngga sanggup buat jadi penulis.
Gue mah jadi penonton setia aja..! Ga usah tinggi-tinggi.

Itulah, terakhir, gue ucapkan selamat berjuang buat kalian yang pengen atau akan menelurkan karyanya di bidang literasi.. Jadilah penulis berkualitas!

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. cihuuyyyy mantap brayy
    angguk2 buat kata2nya

    Balas
  2. sama…oom. aku jg jd penonton setia aja. kali aje bisa kebeli bajaj🙂

    Balas
  3. gw pngen nulis smbl mkn combro…sapa thu aja jdi penulis beneran..

    Balas
  4. Mantabh Om. Ga cuman modal komputer dan kenalan penerbit ya biar bisa jadi penulis.. Jakarta-Bogor harus naik kereta..😀

    Balas
  5. Menjadi penulis itu pasti ada kepuasan tersendiri ketika tulisan berhasil disusun apalagi sampai diterbitkan.

    Balas
  6. aku nulis di blogku aja😛

    Balas
  7. Helllooowww oomGuru yang keren dan keceee…marilah bersama-sama kita lihat ada special gift buat kamu disini http://fabulouspace.wordpress.com/2012/10/30/ouch-a-sweet-gift-from-a-sweet-person/#more-648

    Balas
  8. “Itulah, terakhir, gue ucapkan selamat berjuang buat kalian yang pengen atau akan menelurkan karyanya di bidang literasi.. Jadilah penulis berkualitas!”
    saya suka kalimat di atas, soalnya saya pengen banget menelurkan buku *emangayam?##
    tapi blom kesampaian..
    doain ya Oom😉

    Balas
  9. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Balas

Ngomen Yang Bener!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: