Re: Apakah Tim Kreatif TV Indonesia Masih Pantas Disebut Kreatif ?

Tadi sore, gue iseng2 ngaskus. Lumayan juga, soalnya udah lama gue gak ngorek2 forum yang pernah ngehits zaman waktu gue masih maen dokter2an itu; baik itu cuma mbaca trit; ngomenin trit; sampe bata’in te’es yang wawasannya kurang lantaran malas makan sayur.

Nah, salah satu postingan yang gue baca tadi itu lumayan menarik. Ngebahas soal konten TV sekarang, dimana (emang) lebih banyak busuknya ketimbang bagusnya.
Cuman, ada satu hal yang gue rasa agak ng’ganjel. TS’nya bilang, hancurnya kualitas tayangan TV sekarang dikarenakan faktor kreatifitas dari pelakunya – spesifiknya tim produksi – lebih spesifik lagi, tim kreatif!
Naahh.. gue di sini bukan bermaksud buat belain mereka (tim kreatif TV) yang katanya udah nggak kreatif itu.

image

Emang sih, overall gue setubuh sama opini si TS dan komentator2 lainnya.
Gue sepakat kalo tipi kita emang butuh penyegaran ide, misi dan value.
Tapi sepenuhnya itu bukan salah tim kreatif, lhoo..!
Karena apa?
Karena, gue paham apa yang terjadi di dalam sana. Gue udh pernah bekerja di 3 kantor tipi.. dan sekarang baru pindah di tipi yang ke-4 (2 diantaranya, gue berposisi sebagai produser). Jabatan yang kedengerannya keren, padahal biasa ajah..
Inget yee.. Produser di tipi itu beda sama produser di PH atau label rekaman. Kalau produser film, sinetron atau label rekaman itu adalah orang yang punya duit, maka kalo produser di tipi itu cuma kuli biasa, let’s say jongos lah.. yang kebetulan bertanggung jawab atas pekerjaan timnya.

Tim kreatif yang dimaksud pemosting, adalah posisi yang bertanggung jawab atas konten beserta detailnya (ide/konsep, plot, gimmick, rundown, sampe pemilihan talent). Secara struktur, posisi kreatif ada di bawah produser.
Mereka itu satu komplotan sama PA, scriptwriter assprod dan lainnya.
Nah, karena gue pernah (dan masih) jadi produser, gue paham banget kualitas dan kuantitas mereka para creative staff. Sebenernya, kualitas staff kreatif di tipi itu canggih-canggih kok!

Terus, kenapa produknya masih di bawah garis kenistaan?
Jawabannya, ada banyak..

1. Dipaksa Tidak Kreatif
Tim kreatif dipaksa untuk tidak kreatif lantaran budget yang ditiadakan.
Nah, ini.. gimana mau bisa menghasilkan output brilian kalo belum apa2, EP, sechead produksi, manager produksi, sampe direktur produksi atau direktur yang bersangkutan selalu bilang : “Kita ini budget terbatas.. jadi bikin yang simple aja.” menurut kalian, itu bangke apa bangke?

2. Atasan Egois
Kadang, atasan2 atau bos2, sering kali minta bikinin sesuatu yang di tipi lain lagi ngehits. “Coba dong, bikin program spesial topeng monyet, biar tukang merkosa pada nonton..!”
Padahal, si tim kreatif udah siap mempresentasikan ide briliannya yang mungkin bisa jadi rating maker.

3. Intervensi Bos Besar
Ribet kalo bos besar tipi, udah maen politik. Yang ada, bukannya si tim kreatif diminta buat bikin program oke, malah dipaksa bikin materi kampanye.

4. Beda Selera Bos, Beda Selera Nusantara
Nah ini dia yang lebih ribet! Kadang (bahkan sering) gue ngalamin, gimana kecewanya tim kreatif ketika idenya ditolak mentah2 sama direktur produksi lah, sama bagian programming lah, sama pawang kobra lah, sama tukang ikan lah..
“Ini ide kurang greget.. Coba bikin yang lebih greget.”
Okelah kalo misalnya bos-nya itu adalah peraih golden globe award untuk kategori bos tipi idaman versi pilihan pemirsa.. Nah, kalo bosnya itu dulunya
berangkat dari carpool..?! Atau bosnya dulu orang finance..??! Gimana menilainya? Sedangkan gambar nge-black aja dia ketar-ketir nelpon debt collector, bukan orang control room.. Kan itu jauh lebih ngehe!!

Naahhh.. jadi sekali lagi, gue gak bermaksud untuk belain tim kreatif, karena pada dasarnya mereka adalah buruh ide, bukan kreator..
Emang sih, gak dipungkiri, di beberapa kantor stasiun tipi, ada juga yang ngebebasin tim produksinya berkreasi, cuman tim kreatifnya sibuk ngocok arisan.. Itu baru kacrut namanya.

Apapun itu, untuk membuat satu konten yang bisa tayang di tipi, apalagi tipi nasional, itu gak semudah balikin dendeng di atas genteng.. Ada banyak prosedur yang harus dilewatin. Kalo semua support (termasuk tingkat kematangan ide/konsep), bisa lolos. Kalo enggak, ya jadinya gitu2 aja..

Wassalam.

Iklan

Fake Agent

Cari talent itu susah-susah gampang!
Ya, talent.. bukan talenan!
Talent di sini adalah penampil yang akan memainkan sebuah karakter, baik itu karakter dirinya sendiri atau karakter orang lain di luar dirinya; dimana kemudian karakter tersebut dipertontonkan kepada orang lain untuk menyampaikan messagenya. (Definisi a la gue sendiri)

Jadi gini ceritanya..
Beberapa waktu lalu, seorang teman (sebut saja mawar) yang kerja di sebuah PH (baca: production house, bukan pelita harapan apalagi pizza hut), meminta bantuan gue untuk dicarikan talent. Nantinya, si talent ini akan dicasting untuk sebuah dummy program TV. In short, gue suruh nyari orang yang mau muncul di TV. Namanya muncul di TV, udah pasti dibayar dong yah.. Soalnya kan yang dicari itu talent, bukan si empunya klinik pengobatan yang nyuruh kita promosiin tempat prakteknya. Dibayarnya udah pasti pake duit, bukan pake beras. Bocoran budget fee yang ditawarkan jumlahnya standar, karena yg diminta adalah talent baru, bukan ertong kelas A yang biasa wara-wiri di layar TV.

Meski gue nggak memasarkan artis seperti layaknya mucikari RA, tapi gue pikir “pekerjaan” ini akan berjalan mudah. Karena apa? Karena ini bukan hal baru buat gue. Beberapa waktu silam, gue juga pernah melakukan hal serupa -tepatnya, waktu kantor gue yang dulu (yang sebelah sononya kantor sekarang), berencana untuk membuat sebuah program variety show yang konsepnya itu kebetulan gue sendiri yang bikin; gue diminta untuk cari talent yang bukan artis mahal. Seinget gue, waktu itu gampang banget..! Tinggal kontak sana-sini, langsung banyak yang antri di ruang casting dengan membawa formulir pendaftaran.
Jadi dengan kata lain, biarpun status gue bukanlah seorang talent coordinator, casting director, atau apalah.. melainkan cuma talent scout dadakan – mendekati gadungan (tapi bukan fake agent), gue bisa dibilang sukses mencetak hattrick.. Apalah?!! Mencetak talent.. Host program TV yang sekarang programnya udah nggak tayang lagi.

Nah kali ini, gue sepertinya merasa agak kesulitan, sodara!!
Sampe tanggal hari H yang ditentukan oleh si temen gue, si sebut saja mawar (SSM) tadi, gue belum dapet unit talent yang sesuai kriteria! Gue pikir “Udah gak ada yang mau apa muncul di TV? ..padahal, bukannya masuk TV itu adalah khayalan para babu (babu’s dream)? Toh setau gue, banyak yang saking pengennya jadi artis, sampe-sampe pada rela memperbodoh diri mereka sendiri, dengan cara meng-upload video2 ca’ur mereka di youtube?! Mereka mau tampil meng-konyol-kan diri biar terkenal! Bahkan ada yang sampe mau bobo-bobo lucu sama produser tua bangka, biar dipake di film, sinetron, FTV, dan lain sebagainya..!!? Lah ini kok yang gak usah pake bobo-bobo lucu aja susah banget nyarinya?!!”

Pada akhirnya..
Gue nyerah! Gue gak bisa lagi bantu temen gue lantaran sampe waktu yang ditentukan, gue cuma dapet beberapa kiriman e-mail dari kandidat yang kriterianya nggak masuk.
It’s ok.. temen gue bisa maklum, karena ini memang project sukarela. In other words, gue cuma bantuin dia – jadi kalo sukses ya sukur, kalo nggak ya nggak apa2.

Ya udah..
Segitu aja cerita gue. Intinya, cari orang yang sesuai kriteria itu susah2 gampang..!
Jelas, kan..?! Cari orang buat masuk TV aja nggak gampang, gimana cari orang yang tepat buat menemani kita dalam suka dan duka.. sampai kita tua nanti??!

#eeaaa #apaini #colongandikit

Kerja Atau Main

Nanya pertanyaan sama anak kecil “Kalau gede cita-citanya mau jadi apa?”, pasti jawabannya mainstream. Ada yang jawab mau jadi pilot, insinyur, dokter, astronot atau banyak macem yang lain. Mereka nggak paham, bahwa saat mereka udah gede kelak (terlepas dari apanya yang gede), mereka akan menemukan banyak hal yang akan membuat mereka berpikir ulang tentang cita-citanya tersebut.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, mungkin belum paham bagaimana susahnya jadi anak IPA. Tanpa bermaksud merendahkan anak IPS, anak IPA itu memang cenderung lebih oke.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, juga sepertinya belum paham bagaimana untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan banyak biaya. Bukan melulu soal dana pendidikan, tapi juga biaya sogok-sogokan. Mulai dari nyogok kepala sekolah kalau mereka nggak naik kelas, kemudian nyogok rektorat kalau mereka ingin masuk perguruan tinggi negeri, nyogok dosen kalau ada mata kuliah yang dapat skor D atau E, nyogok pembimbing skripsi biar gak banyak revisi, bahkan mereka yang berniat menjalani profesi tertentu semisal polisi, mereka harus nyogok sana-sini biar bisa masuk pendidikan. Wajar kalo akhirnya banyak dari mereka yang mengusahakan agar modal yang mereka keluarkan, harus segera dikembalikan. Salah satu caranya, dengan melakukan tilang membabi buta, menarik biaya dari mereka yang berniat membesuk keluarganya di lapas, negosiasi bobot hukuman atau masih banyak lagi.. yang ujung-ujungnya adalah duit.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, juga kemungkinan gak pernah tahu, bahwa ada profesi yang jauh lebih oke untuk dijalani. Oke di sini adalah oke yang sebenar-benarnya oke. Maksudnya kalau profesi pada umumnya menuntut personalnya untuk “bekerja”, maka ada beberapa profesi yang mengharuskan pelakunya untuk “bermain”.
Contohnya adalah pemain bola, yang kerjanya ya main bola, bukan kerja bola. Pemain musik yang kerjanya main musik, bukan kerja musik. Pemain film, mereka bukan kerja film. Kalau kerja film itu paling kru-nya.

Sejauh ini, saya merasa bahwa saya masih bekerja, bukan bermain. Meskipun pada kebanyakan prakteknya, saya lebih terlihat seperti orang main (datang gak harus bawa tas berisi laptop atau berkas, pakaian gak harus pake kemeja, masuk kantor gak harus jam 7, jam 8 atau jam 9), tapi saya menganggap bahwa setiap hari saya masih berangkat kerja.
Hanya saja, sekalipun kerja dan bukan main, tapi saya selalu menjalaninya dengan penuh semangat.. kenapa? Karenaaa.. nggak deh, nanti jadi baper. Maklum da aku mah kurang piknik.

Nah, terlepas dari itu semua, apa cita-cita kalian kalo kalian udah gede nanti? #lhoo #memangnyakalianbelumgede #gedeindong

Apapun itu, cintailah profesi apapun dengan sebenar-benarnya cinta. Meski dalam mnjalankan profesinya kalian mungkin sering dimarahi bos, tapi teruslah bersemangat! Ingatlah bahwa bos itu selalu benar, sama seperti perempuan. Bos selalu benar, perempuan juga selalu benar. Bos lo perempuan? Kelar idup lo!!

image