Kerja Atau Main

Nanya pertanyaan sama anak kecil “Kalau gede cita-citanya mau jadi apa?”, pasti jawabannya mainstream. Ada yang jawab mau jadi pilot, insinyur, dokter, astronot atau banyak macem yang lain. Mereka nggak paham, bahwa saat mereka udah gede kelak (terlepas dari apanya yang gede), mereka akan menemukan banyak hal yang akan membuat mereka berpikir ulang tentang cita-citanya tersebut.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, mungkin belum paham bagaimana susahnya jadi anak IPA. Tanpa bermaksud merendahkan anak IPS, anak IPA itu memang cenderung lebih oke.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, juga sepertinya belum paham bagaimana untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan banyak biaya. Bukan melulu soal dana pendidikan, tapi juga biaya sogok-sogokan. Mulai dari nyogok kepala sekolah kalau mereka nggak naik kelas, kemudian nyogok rektorat kalau mereka ingin masuk perguruan tinggi negeri, nyogok dosen kalau ada mata kuliah yang dapat skor D atau E, nyogok pembimbing skripsi biar gak banyak revisi, bahkan mereka yang berniat menjalani profesi tertentu semisal polisi, mereka harus nyogok sana-sini biar bisa masuk pendidikan. Wajar kalo akhirnya banyak dari mereka yang mengusahakan agar modal yang mereka keluarkan, harus segera dikembalikan. Salah satu caranya, dengan melakukan tilang membabi buta, menarik biaya dari mereka yang berniat membesuk keluarganya di lapas, negosiasi bobot hukuman atau masih banyak lagi.. yang ujung-ujungnya adalah duit.

Mereka yang menyebutkan pilot, astronot, dokter ataupun insinyur sebagai cita-cita, juga kemungkinan gak pernah tahu, bahwa ada profesi yang jauh lebih oke untuk dijalani. Oke di sini adalah oke yang sebenar-benarnya oke. Maksudnya kalau profesi pada umumnya menuntut personalnya untuk “bekerja”, maka ada beberapa profesi yang mengharuskan pelakunya untuk “bermain”.
Contohnya adalah pemain bola, yang kerjanya ya main bola, bukan kerja bola. Pemain musik yang kerjanya main musik, bukan kerja musik. Pemain film, mereka bukan kerja film. Kalau kerja film itu paling kru-nya.

Sejauh ini, saya merasa bahwa saya masih bekerja, bukan bermain. Meskipun pada kebanyakan prakteknya, saya lebih terlihat seperti orang main (datang gak harus bawa tas berisi laptop atau berkas, pakaian gak harus pake kemeja, masuk kantor gak harus jam 7, jam 8 atau jam 9), tapi saya menganggap bahwa setiap hari saya masih berangkat kerja.
Hanya saja, sekalipun kerja dan bukan main, tapi saya selalu menjalaninya dengan penuh semangat.. kenapa? Karenaaa.. nggak deh, nanti jadi baper. Maklum da aku mah kurang piknik.

Nah, terlepas dari itu semua, apa cita-cita kalian kalo kalian udah gede nanti? #lhoo #memangnyakalianbelumgede #gedeindong

Apapun itu, cintailah profesi apapun dengan sebenar-benarnya cinta. Meski dalam mnjalankan profesinya kalian mungkin sering dimarahi bos, tapi teruslah bersemangat! Ingatlah bahwa bos itu selalu benar, sama seperti perempuan. Bos selalu benar, perempuan juga selalu benar. Bos lo perempuan? Kelar idup lo!!

image

Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. enaknya bisa main kerja…

    Balas
  2. Om, gw belum gede nih, gedein dong #JanganSalahFokus…. Kalo Cita-cita gw tuh jelas, yaitu Cita Citata.. halah.. Ini komen apaaa!!

    Balas

Ngomen Yang Bener!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: