Kartun Barat VS Kartun Jepang

Siapa suka kartun? ..kalian? ..kalian suka? Ya, sama kalo gitu. Saya juga suka. Kita sama-sama suka nonton kartun. 

(lebih…)

Iklan

Konyolnya Orang Kita

Kalo mau jujur, orang2 Indonesia belakangan ini lagi lucu2nya. Suka maen dagelan yang kadang bukan cuman bisa bikin ketawa, tapi juga bikin bingung. Maksain kehendak pake nge-intimidasi orang. Demen nyalah2in orang, tapi giliran disalahin kabur. Percis kayak anak PAUD.

(lebih…)

Gimmick Akun Anonim

Iseng liat-liat berita Line Today hari ini, isinya gak jauh-jauh, masih dipenuhi oleh kabar seputar moment May Day atau hari buruh, harinya para kontra investor (secara definitif). Membosankan memang.. Karena dari tahun ke tahun, teriakan lantang para pekerja yang kebanyakan dibayar untuk tenaganya itu, cuma itu dan itu lagi. Meminta kesejahteraan lah, kenaikan gaji lah, tunjangan dan tetek bengek lainnya lah. Padahal, udah beberapa tahun ini pemerintah juga gak diem-diem amat. Di sebagian daerah, standar UMP udah diupgrade, tunjangan juga udah ada penyesuaian. Tapi yaa dasarnya manusia.. se-dicukup-i apapun, naluri untuk merasa kurang-nya masih selalu tinggi. Tanpa bermaksud mendiskreditkan – saya jadi bertanya: Entah kenapa kaum yang diwakilkan oleh simbol gear mesin ini, seolah gak mau melakukan evaluasi diri. Pernahkah mereka berpikir bahwa perusahaan yang menjadi almamater mereka, bisa aja mengganti mereka dengan robot, yang jelas-jelas lebih bisa diandalkan dalam perkara praktikal dan nggak doyan banyak nuntut? 

Bahkan dalam beberapa kasus, ada juga perusahaan yang milih untuk memigrasikan unit mereka ke negara lain dengan alasan: karena tuntutan di Indonesia atas para pekerja dianggap terlalu membebani.
Apalah itu.. biarlah! Toh nggak ada hubungan sebab-akibatnya secara langsung kok dengan saya – kecuali aksi mereka mengakuisisi sebagian ruas jalanan ibukota, bikin macet, sehingga saya yang banyak berkegiatan di sana merasa sedikit terusik. Saya sendiri juga buruh lho! Saya buruh independen yang mencari nafkah dengan cara lain. Saya merasa saya nggak ngejongos, karena saya tidak dipasung oleh kode etik milik satu perusahaan tertentu, dan cenderung mendapat bayaran atas hasil kerja sensorik, bukan motorik. 

Well.. soal berita Line Today tadi, ada satu yang cukup.. apa ya? Mungkin menggelitik kali istilahnya. Nggak cukup bikin penasaran, tapi lumayan kuat daya persuasinya untuk kemudian saya klik tautan headline-nya. Yaitu kabar seputar drama pembongkaran identitas di balik akun terkenal spesialis pengrajin ‘berita selentingan’, Lambe Turah

Admin Lambe Turah

identitas admin lambe turah

Screenshot: Line Today  

Siapa itu? 

Jujur saya juga gak terlalu paham – dan memang tidak merasa perlu untuk lebih jauh memahami. Yang saya tau sekilas, Lambe Turah itu adalah akun dengan ribuan (bahkan jutaan) pengikut, yang gigih menyebarkan warta dengan skala waktu paling cepat dibandingkan portal berita resmi sekalipun. 

Saya sih gak follow akunnya, jadi gak tau juga materi apa yang sebenarnya sering dia posting. Cuma.. memang ada segelintir teman (dan kebetulan juga pacar saya), yang follow akun ini. Jadi kalo pas kebetulan lagi ada moment ngobrol, suka tiba-tiba mengalir celetukan: “Eh.. kamu tau gak? Katanya kemaren si ini begini lhoo!”, “Eh, semalem ada kejadian ini lho di sana..!”

Saya tanya: “Tau dari mana?”, jawaban mereka: “Ini.. aku liat di postingannya Lambe Turah.” 

Sialan..!! Dalam hati: “Dia lagi!” 

Tapi dari situlah saya jadi tau sedikit-sedikit tentang akun yang cuma rame di platform instagram ini. 

Berita yang muncul, konon identitas dari sosok di balik akun anonim tersebut udah ditelanjangi. Berawal dari investigasi-investigasian yang dilakukan satu pihak – dengan bumbu sedikit konflik dari orang-orang yang ada di belakangnya, berita itu jadi semacam drama di bawah drama.
Sejatinya, opera sabun semacam ini merupakan teknik usang. Saya masih inget dulu, di taun 2011 silam, ketika akun twitter anonim terkenal @poconggg diungkap identitasnya oleh seseorang bernama drakula edogawa. 

Dengan genre investigasi ala Detective Conan, alur cerita berakhir dengan terkatrolnya popularitas seseorang yang sekarang sukses mencari nafkah dari ketenaran di dunia maya.

Re-run cerita dari judul lawas, sekarang sedang dimunculkan lagi. Ibaratnya kalo sebuah lagu, versi lama yang pada masanya sukses terjual secara komersil, di-repackage dengan aransemen baru dan dibawakan oleh penyanyi yang berbeda. 
Kita nggak tau, apa nanti sang admin akan menuai popularitas dan menjadi seleb seperti akun di balik Poconggg?

Yang pasti, satu yang bisa dipelajari,bahwa untuk menjadi terkenal, kini tidak melulu harus lewat proses casting (yang kadang kala jauh dari kata fair) atau proses audisi seperti ajang pencarian bakat yang selalu mendulang rating di TV-TV nasional. Cukup dengan memanfaatkan jejaring maya dan mengolahnya dengan menggunakan secuil kreatifitas, agar menjadi sebuah gimmick yang kemudian bisa menarik perhatian banyak orang.