Gimmick Akun Anonim

Iseng liat-liat berita Line Today hari ini, isinya gak jauh-jauh, masih dipenuhi oleh kabar seputar moment May Day atau hari buruh, harinya para kontra investor (secara definitif). Membosankan memang.. Karena dari tahun ke tahun, teriakan lantang para pekerja yang kebanyakan dibayar untuk tenaganya itu, cuma itu dan itu lagi. Meminta kesejahteraan lah, kenaikan gaji lah, tunjangan dan tetek bengek lainnya lah. Padahal, udah beberapa tahun ini pemerintah juga gak diem-diem amat. Di sebagian daerah, standar UMP udah diupgrade, tunjangan juga udah ada penyesuaian. Tapi yaa dasarnya manusia.. se-dicukup-i apapun, naluri untuk merasa kurang-nya masih selalu tinggi. Tanpa bermaksud mendiskreditkan – saya jadi bertanya: Entah kenapa kaum yang diwakilkan oleh simbol gear mesin ini, seolah gak mau melakukan evaluasi diri. Pernahkah mereka berpikir bahwa perusahaan yang menjadi almamater mereka, bisa aja mengganti mereka dengan robot, yang jelas-jelas lebih bisa diandalkan dalam perkara praktikal dan nggak doyan banyak nuntut? 

Bahkan dalam beberapa kasus, ada juga perusahaan yang milih untuk memigrasikan unit mereka ke negara lain dengan alasan: karena tuntutan di Indonesia atas para pekerja dianggap terlalu membebani.
Apalah itu.. biarlah! Toh nggak ada hubungan sebab-akibatnya secara langsung kok dengan saya – kecuali aksi mereka mengakuisisi sebagian ruas jalanan ibukota, bikin macet, sehingga saya yang banyak berkegiatan di sana merasa sedikit terusik. Saya sendiri juga buruh lho! Saya buruh independen yang mencari nafkah dengan cara lain. Saya merasa saya nggak ngejongos, karena saya tidak dipasung oleh kode etik milik satu perusahaan tertentu, dan cenderung mendapat bayaran atas hasil kerja sensorik, bukan motorik. 

Well.. soal berita Line Today tadi, ada satu yang cukup.. apa ya? Mungkin menggelitik kali istilahnya. Nggak cukup bikin penasaran, tapi lumayan kuat daya persuasinya untuk kemudian saya klik tautan headline-nya. Yaitu kabar seputar drama pembongkaran identitas di balik akun terkenal spesialis pengrajin ‘berita selentingan’, Lambe Turah

Admin Lambe Turah

identitas admin lambe turah

Screenshot: Line Today  

Siapa itu? 

Jujur saya juga gak terlalu paham – dan memang tidak merasa perlu untuk lebih jauh memahami. Yang saya tau sekilas, Lambe Turah itu adalah akun dengan ribuan (bahkan jutaan) pengikut, yang gigih menyebarkan warta dengan skala waktu paling cepat dibandingkan portal berita resmi sekalipun. 

Saya sih gak follow akunnya, jadi gak tau juga materi apa yang sebenarnya sering dia posting. Cuma.. memang ada segelintir teman (dan kebetulan juga pacar saya), yang follow akun ini. Jadi kalo pas kebetulan lagi ada moment ngobrol, suka tiba-tiba mengalir celetukan: “Eh.. kamu tau gak? Katanya kemaren si ini begini lhoo!”, “Eh, semalem ada kejadian ini lho di sana..!”

Saya tanya: “Tau dari mana?”, jawaban mereka: “Ini.. aku liat di postingannya Lambe Turah.” 

Sialan..!! Dalam hati: “Dia lagi!” 

Tapi dari situlah saya jadi tau sedikit-sedikit tentang akun yang cuma rame di platform instagram ini. 

Berita yang muncul, konon identitas dari sosok di balik akun anonim tersebut udah ditelanjangi. Berawal dari investigasi-investigasian yang dilakukan satu pihak – dengan bumbu sedikit konflik dari orang-orang yang ada di belakangnya, berita itu jadi semacam drama di bawah drama.
Sejatinya, opera sabun semacam ini merupakan teknik usang. Saya masih inget dulu, di taun 2011 silam, ketika akun twitter anonim terkenal @poconggg diungkap identitasnya oleh seseorang bernama drakula edogawa. 

Dengan genre investigasi ala Detective Conan, alur cerita berakhir dengan terkatrolnya popularitas seseorang yang sekarang sukses mencari nafkah dari ketenaran di dunia maya.

Re-run cerita dari judul lawas, sekarang sedang dimunculkan lagi. Ibaratnya kalo sebuah lagu, versi lama yang pada masanya sukses terjual secara komersil, di-repackage dengan aransemen baru dan dibawakan oleh penyanyi yang berbeda. 
Kita nggak tau, apa nanti sang admin akan menuai popularitas dan menjadi seleb seperti akun di balik Poconggg?

Yang pasti, satu yang bisa dipelajari,bahwa untuk menjadi terkenal, kini tidak melulu harus lewat proses casting (yang kadang kala jauh dari kata fair) atau proses audisi seperti ajang pencarian bakat yang selalu mendulang rating di TV-TV nasional. Cukup dengan memanfaatkan jejaring maya dan mengolahnya dengan menggunakan secuil kreatifitas, agar menjadi sebuah gimmick yang kemudian bisa menarik perhatian banyak orang.

Iklan

B5 (Bigo Bikin Bu’e Berani Bugil)  

Lama nggak posting, sekalinya posting nggak lama.

Ya, kali ini saya memang mau posting, tapi entah tema apa yang akan saya angkat – karena saya sendiri bingung, apa tema yang sekarang lagi booming.

Gini aja.. saya mau nanya. Kalian kenal sama dia?

Atau sama dia?

Kalau kalian kenal, maka kita punya tema untuk dibahas.

Betul, mereka adalah artis. Artis yang sering tampil live, tapi livenya cuma monolog (ngomong sendiri), melet-melet, mendesah dan membuat gestur lain yang cenderung nggak senonoh, beda sama artis biasa yang emang selayaknya perform secara on air ataupun off air. Maklum, mereka yang di atas itu biasa tampil live, nggak pernah taping, delay apalagi rerun. Mereka nggak pernah melewati badan sensor dan mereka nggak akan ditegur KPI.
Kenapa?
Karena mereka adalah artis Bigo!

Apa itu Bigo? 

Bigo adalah aplikasi yang (baru saja) didownload dan bahkan digandrungi oleh beberapa teman saya. Mereka (teman-teman saya itu) – seperti halnya orang Indonesia kebanyakan – turut menyalahgunakan aplikasi ini untuk kepentingan pribadi.. dan bahkan sangat pribadi. Padahal, sejatinya tujuan aplikasi yang pertama diluncurkan Maret 2016 ini adalah untuk mempertontonkan bakat, kemampuan dan hal unik lain untuk bisa mendapatkan apresiasi dari pemirsa.. eh, penonton.. eeh.. penyetreaming tepatnya!

Para artis Bigo seperti Olyvia si Ratu Banned, nggak pernah sekalipun ngeluarin bakat mereka saat live, kecuali ngeluarin pentil tetek, yang mana itu sama sekali nggak masuk kategori bakat atau kemampuan. Meskipun jadi hal yang wajar bahwasanya di Bigo banyak beredar tetek-tetek liar.

Tapi ya sudahlah.. Mau apa lagi?! 

Teknologi memang akan selalu menjadi pisau bersisi dua.. dimana akan sangat berguna kalo dipake bener, tapi akan merusak kalo dipake nggak bener. Dari 10 juta pengguna Bigo – dimana kamu mungkin salah satunya, banyak yang menyalahgunakannya. Sisanya, agak menyalahgunakan. Jadi, apa bagaimana ini??? 

Plis Jangan di-Blur!

Udah lumayan lama juga gue gak ngisi ini blog. Gue gak nulis bukan karena sibuk nyari Pokemon, tapi karena gue sibuk nyari nafkah plus nyari ibu buat anak-anak gue (kelak)..

Ngomong-ngomong, berapa bulan kemaren, dunia per-youtube-an sempet dibikin heboh sama video lagu orang gede yang dibawain sama anak kecil. Seorang bocah perempuan yang nyanyiin lagu Lelaki Kerdus, lagu dewasa, yang sebenernya kalo kata gue, udah ‘bener’ kalo dinyanyiin sama anak kecil. Maksud gue ‘bener’, bukannya bagus.. tapi karena emang liriknya -yang kemudian jadi bikin rusuh itu-, dibuat dari perspektif anak kecil. Jadi lirik tersebut bukanlah lirik buat orang dewasa yang dinyanyiin anak kecil, tapi emang sudut pandanh anak kecil, yang diekspresikan pake kata-kata orang gede. Penggunaan bahasa ‘bronx’-nya emang ca’ur, tp sudut pandangnya sih gue rasa gak salah..
Yang salah itu, kalo lirik buat orang dewasa, dibawain sama bocah. Untuk kasus ini, contohnya adalah Johnny Orlando atau yang lebih kecil lagi, Gregory Q. Coba deh liat di youtube lagu-lagunya mereka itu..! Kebanyakan cover dari lagu-lagu orang gede. Lagu orang gede, yang tentunya riskan buat dibawain sama anak kecil -kecuali yang temanya bukan cinta-cintaan atau hal lain yang mengandung explicit content.
Itu baru alig kalo kata gue!
Liriknya yang based on perspektif orang dewasa, dibikin sama orang dewasa, sempet dinyanyiin sama orang dewasa dan tujuannya untuk diterjemahkan oleh orang dewasa. Tapi faktanya, di luar negeri, yang begitu aja diapresiasi (lebih tepatnya gak dibikin rame – hanya dinikmatin aja). Kenapa? Karena kualitasnya juga oke. Lagu-lagu cover Gregory Q itu, dinyanyiin, direkam, dimixing, dimastering secara professional. Bahkan video klipnya dibuat dengan standar pro.
Kalo di sini, misalkan anak Mulan Jameela nyanyiin lagu emaknya, mungkin bisa dibikin jadi rame.
Apa yang salah? Perbedaan kultur? Apresiasi? Atau regulasi?
Entahlah..
Tapi yang jelas, kalo udah gini, urusannya gak jauh, paling KPI, KPAI, dan institusi lain yang harusnya jadi controller, tapi faktanya malah sering menggunakan otoritas untuk membuat kebijakan secara subyektif. Terutama KPI.
Gue gak tahu, darimana idenya kalo Shizuka pake bikini itu harus diblur? Yaelah.. liat cemen Shizuka, siapa yang mau konak sih?! Trus yang namanya adegan berantem nggak boleh.. Ngerokok di blur.. Darah harus BW.. Ngomong bego dll harus disensor..?!!
Yang bener itu, filter tayangannya. Tiap acara film, sinetron, talkshow atau apapun, sebelum tayang, harusnya ditentuin content rate-nya. Apakah ada age restriction atau nggak. Kalo sebelumnya udah ada peringatan konten itu 18+, maka wajib penonton sendiri yang ngontrol, siapa di keluarganya yang boleh ndablek di depan TV, siapa yang harus masuk kamar. Kalo masih ada anak, adik, keponakan mereka yang kekeuh pengen nonton, yaa.. resikonya tanggung sendiri, gak harus gambarnya yang diacak-acak.